Senin, 21 Juli 2008

Media Di Mata Khalayak
















Sebelas. Itulah jumlah stasiun televisi nasional yang ada di Indonesia saat ini. Cukup banyak, namun jumlah tersebut tidak memberikan keragaman program, yang terjadi justru keseragaman. Masalah tersebut memang sudah menjadi isu yang bisa dibilang klise untuk dunia pertelevisian lokal.

Justru yang tengah hangat saat ini adalah masalah kepemilikan stasiun televisi. Maklum, merger, take over dan penyuntikan modal telah dialami beberapa stasiun televisi. Sebut saja PARA Group yang membawahi Trans Corp dan Trans TV-nya, yang mengambil alih TV7 dari kelompok Kompas Gramedia. Dengan komposisi kepemilikan 51:49, pihak Trans Corp mengubah nama TV7 menjadi Trans 7. Sebelumnya, dana US$20 juta (sekitar Rp 200 miliar) yang digelontorkan kelompok Kompas Gramedia sebagai modal awal hanya mampu menopang TV7 selama lima tahun. Agustus 2006, Trans Corp membeli saham TV7 sebesar 49 persen yang sebelumnya dimiliki oleh kelompok Kompas Gramedia itu.

Di stasiun "berbaju" baru ini, pihak Trans Corp pun menempatkan beberapa personelnya di posisi strategis untuk menyulap tampilan si anak asuh. Jadilah beberapa program yang cukup menaikkanl peringkat Trans 7 dalam perolehan rating versi lembaga survei AGB Nielsen. Termasuk ditayangkannya film-film box office yang selama ini sudah menjadi semacam trade mark Trans TV.

RCTI, TPI, dan Global TV, juga sudah "menyatu" bernaung dalam kelompok Media Nusantara Citra (MNC). Kemudian, masih segar di ingatan, kontroversi dan perubahan yang disebabkan Star TV di dunia pertelevisian Indonesia. Perusahaan milik raksasa media dunia, Rupert Murdoch, itu membeli 20 persen saham antv. Kepemilikan itu turut mengobrak-abrik seluruh program dan staf stasiun televisi milik keluarga Bakrie ini. Tampilannya lebih baru dan segar, semata-semata ditujukan untuk meningkatkan rating dan tentu saja, perolehan iklan.

Sejak 30 April tahun lalu, selain mengganti logo, antv juga merombak program-programnya. Menurut Senior Manager Corporate Communications antv, Zoraya Perucha, baru-baru ini, stasiun televisi tersebut kini memiliki sekitar 80 persen program baru. Sisanya merupakan program lama yang dirombak dan ditampilkan kembali dalam format baru.

Konsep dasarnya adalah menjadikan antv sebagai stasiun televisi dengan program-program alternatif. Mereka berupaya mencuri celah penonton yang ada, terutama mereka yang sudah penat dengan tren sinetron dan program televisi Indonesia yang begitu-begitu saja.

Selain itu, antv juga tanpa tanggung-tanggung menarik dedengkot program berita SCTV, Karni Ilyas. Masuknya Karni mengubah citra antv yang cukup lekat dengan kekerasan dan mistis. Program-program berita ditampilkan lebih elegan dan eksklusif, berkat tangan dingin Karni.

Kini, Karni pindah ke Lativi. Ada apa? Itu yang jadi pertanyaan banyak pihak. Kepindahannya ke sana merupakan bagian strategi pihak Star TV yang juga membeli sebagian saham milik Abdul Latief di Lativi. Beberapa sumber menyebutkan, awalnya Karni memang difokuskan pada antv. Kini setelah antv bisa dilepas kepada orang lain, ia pun mulai berkonsentrasi membidani Lativi baru. Tak heran jika tayangan-tayangan berkonotasi mesum, sadis, dan mistis pun pelan-pelan mulai digeser dari stasiun ini. Rating-nya pun mulai naik secara perlahan.


Kesan Seragam

Perkembangan semacam itu tentunya membawa perkembangan positif bagi pemirsa di rumah. Tayangan-tayangan yang bisa berdampak negatif mulai dieliminasi dari layar kaca. Namun dari sisi keragaman program, tampaknya, merger seperti itu justru berdampak kurang baik. Kesan seragam pun kembali mengemuka.

Menurut pakar budaya massa dan pengamat dunia pertelevisian, Veven Sp Wardhana, perubahan kepemilikan stasiun televisi di Indonesia tidak akan memberi dampak masif pada konten programnya. "Perubahan status itu lebih ke bisnis semata," tutur Veven kepada SP, Kamis (23/8).

Lebih lanjut ia menjelaskan, merger, pengambilalihan stasiun televisi atau penyuntikan dana, hanya berupa investasi yang meniadakan kemungkinan runtuh atau bangkrutnya sebuah stasiun televisi tertentu, atau minimal, mengulur waktu si stasiun televisi tersebut sebelum benar-benar tenggelam. "Para pemilik modal di stasiun televisi biasanya tidak sabar. Mereka tidak mengira bisnis televisi itu butuh waktu panjang untuk bisa sukses. Mereka terbiasa dengan bisnis lain yang cepat mendapat untung," tambah Veven.

Ia menunjuk antv dan Lativi sebagai contoh kasus. Kehadiran Star TV dalam keduanya banyak memberikan masukan positif. "Saya melihat, Star TV memberikan modal dan menularkan profesionalisme mereka," katanya.

Kehadiran sosok seperti Karni Ilyas di kedua stasiun televisi itu juga memberi dampak yang positif menurut Veven. Citra masing-masing stasiun televisi kini lebih baik, yang tentunya akan menguntungkan pemirsa televisi itu sendiri.

Fenomena sebaliknya justru terjadi pada Trans Corp dan MNC Group. Pada Trans Corp, Trans TV dan Trans 7 kini sudah kehilangan keragamannya. Yang hadir hanyalah keseragaman materi program, yang membuat keduanya mirip satu sama lain. Dari sisi kualitas, keduanya memang sama-sama baik. Namun publik dirugikan karena ciri khas TV 7 kini hilang akibat melebur ke dalam nama Trans 7.

Sementara untuk MNC Group yang membawahi RCTI, TPI dan Global TV, saat ini memang masih mengusung segmentasi yang jelas. RCTI lebih ke kaum menengah atas, TPI untuk kaum menengah bawah sementara Global TV condong pada kaum muda.

"Saya pikir, segmentasi seperti itu akan rontok tak lama lagi. Lihat saja, dulu RCTI yang tak mau menayangkan program bernuansa marjinal, kini sudah mulai menggeser diri karena melihat TPI justru sukses dengan segmen tersebut. Lama kelamaan, ketiganya akan mengambil segmen yang sama," jelasnya.

Untuk ke depan, Veven memprediksi, peta dan pola pertelevisian Indonesia masih akan tetap sama seperti saat ini. Banyak program yang seragam, tanpa variasi yang berarti. Satu stasiun televisi mengekor stasiun lain yang dianggap lebih sukses.

Monopoli Informasi

Sementara itu, Kepala Humas Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Heryadi Purnama, di Jakarta, Selasa (21/8) mengatakan, akuisisi sejumlah stasiun televisi berisiko memunculkan monopoli bisnis informasi. Masuknya investasi asing juga membuka peluang masuknya kepentingan asing dalam dunia pertelevisan Indonesia. Peluang bisnis informasi audio visual Indonesia memang menjanjikan keuntungan besar.

Menurut Heryadi, dari sisi bisnis, tayangan televisi saat ini memang menghasilkan rating dan konsumsi iklan tinggi. Tetapi patut disayangkan, misi pendidikan yang harusnya diemban media massa, mulai terkikis. Tayangan televisi bertujuan mencari ke- untungan tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi masyarakat. KPI berharap kecenderungan ini tidak terjadi, sehingga media tidak menjadi alat propaganda kelompok tertentu yang bisa mempengaruhi arah pemberitaan yang berat sebelah.

Bergabungnya sejumlah stasiun televisi bukannya tanpa dasar. Sebelum diakuisisi, sejumlah stasiun televisi mengalami kerugian besar. Akuisisi menjadi usaha menyematkan diri dari ancaman kebangkrutan. Hasilnya menunjukan, setelah bergabung, selain terhindar dari kebangkrutan, juga bisa menggandakan keuntungan.

Indosiar, SCTV, dan Metro TV menjadi stasiun yang belum terakuisisi, sekalipun tidak tertutup kemungkinan ketiga stasiun ini akan menggabungkan diri seperti yang lain. Pada kuartal ketiga 2006, Indosiar mengalami rugi bersih Rp 187 miliar, meski pendapatan bersih mencapai Rp 460 miliar. Indosiar juga masih memiliki kewajiban membayar obligasi I Indosiar Visual Mandiri sebesar Rp 696,2 miliar, yang akan jatuh tempo pada 8 Agustus 2008.

Jadi jelas, tujuan akuisisi selain menyelamatkan diri, juga usaha meningkatkan keuntungan. Namun KPI berharap kelompok bisnis siaran televisi Indonesia bersikap bijaksana, dengan menayangkan hiburan yang mendidik, dan bukan semata-mata mengejar rating tinggi dan pemasukan iklan. "Konsumsi publik hendaknya mempertimbangkan unsur hiburan dan pendidikan secara seimbang. Perimbangan pemberitaan juga harus dijaga supaya tak ada pembodohan publik. Kemungkinan masuknya kepentingan asing melalui penyiaran juga harus dicermati," tegas Heryadi.

Jadi, kemana arah stasiun-stasiun televisi di Indonesia? Semoga menuju arah yang benar, sebagai sumber informasi yang mendidik, menghibur, dan membantu mengembangkan wawasan seluruh masyarakat Indonesia. Begitu seharusnya bukan?!

Tidak ada komentar: